HARMONI BROMO & TENGGER

    taman-nasional-bromo-tengger-jawa-timur-indonesia1 “Nanti jalan yang dilewati bukan jalan biasa lagi, tapi udah mulai naik gunung, harus pake mobil yang 4WD. Mobil biasa nggak mungkin sampai atas,” ujar sang bapak tersebut, Pak Kasim namanya, warga asli tengger yang selanjutnya akan menjadi pemandu kami selama di Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru ini. Mobil jeep yang kami tumpangi pun tak melaju pelan, menembus hutan lebat Pananjakan yang terhalang kabut. Suasananya mengerikan, jika tidak  ingin disebut mistis. Jalan berbelok curam dengan jarak pandang tidak sampai lima meter membuat jantung saya berdebar. Ditambah Pak Kasim mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.   “Bapak sudah hapal jalannya mas, setiap pagi memang seperti ini kondisinya,” jawab si bapak santai sambil membetulkan sarung yang dikenakan di tubuh, sesekali ia menghisap rokoknya. Saya cuma bisa meringis sambil terus berpegangan ke pintu mobil. Suhunya pasti sekitar sepuluh derajat celcius, lebih dari itu dua lapis jaket tebal saya tidak mampu menahan dinginnya bromo di pagi buta ini. “Kita sudah sampai di Pananjakan,” ujar pak Kasim. Di depan kami jeep-jeep sudah parkir memanjang rapih yang juga membawa para pemburu sunrise. Disini banyak tersedia warung-warung yang menjajakan makanan, terlihat juga beberapa orang menawarkan jaket-jaket tebal untuk disewakan. Saya langsung memesan obat anti dingin : Mie rebus hangat dengan telur plus teh manis panas! Hari masih gelap, tetapi ratusan orang sudah antusias menyambut atraksi matahari terbit di Puncak Pananjakan. Puluhan tripod dengan lensa-lensa putih panjang siap menerkam wajah-wajah bromo. “Kalau bulan Juni biasanya setiap pagi selalu cerah. Bromo, batok, dan semeru semua terlihat dari pananjakan,” pak Kasim menjelaskan. Disini, tidak hanya wisatawan lokal yang memenuhi area pananjakan, tetapi wajah-wajah bule juga tidak sedikit yang berada disini. Maklum, selain Bali, icon Indonesia yang terkenal di luar sana adalah Bromo. Bahkan buku panduan perjalanan lonely planet mendeskripsikan Bromo seperti ini, “A lunaresque landscape of epic proportions and surreal beauty, Gunung Bromo is one of Indonesia’s most breathtaking sights.” Waktu menunjukan pukul 05.25, mentari mulai menampakan dirinya tetapi kabut masih tebal. Orang-orang mulai gelisah, tetapi tiba-tiba sedikit semburat mentari muncul! “Yeahhhhh….!’, semua bersorak sambil bertepuk tangan. Sesaat kemudian, matahari tertutup kabut kembali. “Ooooowwh…,” penonton pun kecewa. Kejadian terus berulang beberapa kali, dan setiap matahari muncul, dengan serempak para sunrise hunter ini menjadi seperti penonton acara Empat Mata-nya Tukul Arwana. “Eaaaa eaaa..,” sahut orang-orang secara serempak saat matahari muncul, sebelum kemudian menghilang kembali. Ini adalah drama paling lucu sepanjang sejarah saya menyaksikan sunrise. Akhir cerita, kabut tebal menutupi, dan pandangan postcard klasik bromo tidak bisa terlihat. Saya sangat kecewa. Tapi, begitulah alam, kita tidak bisa menebak kejutan apa yang akan ia suguhkan. “Mampir dulu ke rumah bapak, makan sama mandi dulu sebelum pulang,” pak Kasim berbaik hati mengajak kami yang wajahnya sudah penuh dengan pasir ini. Tanpa rasa malu, saya pun tak kuasa menolak hehe.parkiran-kuda-di-kawang-gunung-bromo “Silakan masuk ke dalam, mas,” ujarnya sambil tersenyum. Rumah ini punya ruang tengah yang terbilang luas dibandingkan kamar-kamar sekitarnya. Mungkin bisa dipakai untuk ‘arisan’ hingga 30 orang. Di tengah-tengah ruangan terdapat tungku yang digunakan untuk memasak dan menghangangatkan badan. Di depan tungku, terdapat kursi yang disusun berhadapan seperti angkutan umum dalam kota. Langit-langit diatasnya nampak hitam karena terus menerus diasapi oleh tungku. “Disini tempat orang tengger berkumpul, mencari hangat, dan bermusyawarah, dan menyambut tamu,” ujar pak kasim lagi. Ia mempersilakan kami duduk di pawon untuk menikmati sajian khas tengger; jagung putih penggati nas,, sayuran bunga kol yang masih muda, serta sambal plecing. Sambal yang rasanya membuat dingin hampir-hampir menjadi hilang saking pedasnya! Orang tengger selalu memberikan penghargaan tertinggi terhadap al am. Hidup mereka tak bisa lepas dari a lam pegunungan tengger. Mereka sadar, alamlah yang akan mencukupkannya – jika mereka tetap berlaku sahaja dan tidak serakah. Keselarasan antara keseimbangan alam dan kesederhanaan hidup membuat orang Tengger sudah menjadi substansi kehidupan dari mereka. Saya selalu terkesan dengan keramah-tamahan orang Tengger. Bukan kali ini saya merasakan mereka sangat menghormati tamu. Setahun yang lalu, saat saya baru saja turun dari Mahameru – dengan keadaan yang sangat lemah dan sudah terlalu malam untuk mengejar truk sayur kembali ke Tumpang – saya dipersilakan seorang warga Tengger untuk menginap di rumahnya. Bahkan kami juga disajikan makanan, tanpa harus membayar sepeserpun karena waktu itu uang kami hanya untuk ongkos pulang. Tengger, selain berasal dari suffix nama pendahulunya Roro An(teng) dan Joko Se(ger), secara etimologis berarti tanpa gerakan. Dalam artian yang menunjuk kepada perilaku yang berbudi luhur, sederhana dan bersahaja, serta tak ingin macam-macam. Kecuali, mereka hanya ingin hidup harmonis dengan alam. Di kejauhan, Gunung semeru m asih saja dengan angkuhnya melihat kami yang tak lebih besar dari batuan yang ia muntahkan. Semeru, puncak abadi para dewa, adalah bagian dari kehidupan warga Tengger. Ia memberikan kehidupan bagi setiap warga tengger, tapi juga sebagai pengingat – bahwa maut bisa datang kapan saja.